SELAMAT DATANG DI RUMAH ONLINE SYAHID MUJIBUR ROHMAN EL FURQONI

Rabu, 07 November 2018

Pemenang Sebenarnya (Titis)


Pemenang sebenarnya

Suatu hari ada seorang raja brazil yang sedang sakit keras,dan dia berfikir keras bagaimana caranya agar negara brazil ini terkondisi seperti semula jika sang raja sakit dan karna raja merasa ia tidak akan sembuh dari penyakitnya. akhirnya raja pun memutuskan untuk mencari pemuda  yang dapat menggantikan posisinya sebagai raja dikerajaan brazil, hal ini juga dikarenakan sang raja tidak memiliki seorang putra mahkota yang dapat menduduki  singgasana dikerajaanya..
Dan raja pun merasa jika  ia tidak kuat turun tangan sendiri  untuk mencari pengganti untuk menggantikan posisinya. karna ia rasa kondisinya tidak memungkinkan untuk pergi sendiri akhirnya ia memerintah kan panglima  kerajaan brazil untuk mengadakan sebuah kompetisi dan yang dicari raja adalah orang yang kuat dan tidak mudah putus asa .akhirnya raja mengadakan kompetisi “the real champion” untuk mencari pemenang sebenarnya ada sekitar 1.000.000 peserta yang mengikuti kompetisi tersebut karna raja menjamin bagi siapa yang memenangkan kompetisi tersebut akan diberi hadiah uang sebesar $ 100.000.000 dan, yang terpenting adalah menggantikan posisinya sebagai raja. maka banyak peserta yang mengikuti kompetisi tersebut, tetapi raja tidak memberi tahu rintangan apa yang harus mereka lewati kompetisi tersebut terdiri atas empat rintangan berbahaya.
Seluruh peserta dibawa kehutan amazon untuk melewati rintangan  pertama. Yaitu melalui hutan amazon hingga finish di pantai atlantik. Di hutan amazon telah menunggu hewan-hewan berbahaya di dunia. Seperti piranha, anaconda,dan candiru fish  serta banyak hewan beracun yang dapat membunuh manusia hanya karna menyentuhnya.seperti ulat beracun,mengetahui bahaya seperti ini ratusan ribu peserta mengundurkan diri.Namun masih ada yang nekat melalui rintangan pertama demi 100 juta dolar dan kedudukan sebagai raja.Peserta harus menyusuri hutan amazon dengan berjalan, menyebrangi sungai penuh piranha  dan jalan berhari-hari  bersama  anaconda yang siap menyerang kapan saja. Rintangan pertama  hanya menyisahkan 100.000 peserta yang bisa sampai dipantai atlantik.Disana  mereka sudah ditunggu kapal  yang akan mengangkut mereka menuju rintangan ke dua.Kapal membawa mereka  menuju benua afrika. Ditengah perjalanan  tiba – tiba  puluhan  kapal itu berhenti ternyata itu merupakan tantangan yang ke dua .Yaitu menyebrangi laut penuh hiu – hiu paling berbahaya di dunia. Untuk sampai ke daratan afrika
Ribuan peserta ingin mundur dari tantangan kedua. Sayangnya seluruh peserta terpaksa nyebur kelautan meskipun penuh hiu – hiu lapar, karena kapal akan di ledakan dalam waktu dua menit oleh panitia.
Peserta berhamburan meloncat ke laut  dan berenang secepat – cepat nya untuk menghindari santapan hiu -hiu lapar ditengah kejaran hiu ,peserta juga harus melalui hambatan berupa gelombang laut yang tinggi karena pada saat itu sedang badai dasyat dilaut atlantik.  tantangan kali ini hanya menyisakan 10.000 peserta yang mampu sampai di daratan afrika. Para peserta harus berlari – lari dari kejaran singa  afrika serta berhati-hati terhadap bisa ular paling berbahaya khas gurun pasir, dan mampu bertahan dari serangan badak afrika .rintangan ketiga hanya menyisakan 100 peserta sisanya menyerah ditengah jalan  atau mati diserang hewan pemangsa rintangan selanjutnya adalah menyusuri sungai nil sungai terpanjang di dunia disana mereka harus berenang menyusuri sungai nil selain itu mereka harus melindungi diri dari santapan buaya –buaya lapar khas sungai nil,dan mampu bertahan dari kuda nil yang mematikan   , tantangan terakhir adalah melalui gurun sahara gurun terluas didunia ,pemenangnya adalah peserta yang pertama kali sampai dimesir tepatnya di puncak piramida tertinggi dimesir  untuk mengambil gelar kepemimpinannya. Tidak mudah melalui gurun sahara ,suhunya sangat extreme
Siang hari sangat panas dan malam hari sangat dingin .selain melawan kepanasan dan kedinginan mereka juga harus mampu menghindari hewan berbahaya khas gurun pasir  seperti kalajengking beracun   dan ular beracun yang membuat manusia mati hanya dengan menyentuh kulitnya . disekitar  piramida telah menunggu para panglima beserta  sang raja  yang ingin melihat siapakah yang paling kuat dan tidak mudah putus asa,  yang siap diangkat sebagai seorang pemimpin yang layak menduduki singgasana  sebagai pengganti raja .dan ditengah tengah kecemasan dan kekhawatiran sang raja , rakyat serta panglima ,terlihat bayangan seseorang yang sedang berlari-lari  dari arah selatan .namun masih agak samar karena tertutup debu yang berterbangan di udara .
Saat terlihat semakin dekat  dan jelas ,rakyat dan raja serta panglima bersorak gembira menyambut kedatangan nya .raja dan panglima serta para rakyat sangat penasaran siapakah seseorang pemuda yang sangat kuat itu dan mampu bertahan  sampai  di piramida serta mampu melewati  tantangan-tantangan yang sangat berbahaya  dengan selamat  sampai selesai . dengan sisa-sisa tenaganya dia panjat piramida tertinggi dimesir  untuk mengambil gelar seorang pemimpin  dan hadiah uang . setelah lama menunggu akhirnya mulai Nampak terlihat sosok seorang pria asal afrika , berkulit hitam, berambut ikal, badan nya tidak terlalu tinggi dan  dalam keadaan lusuh menunjukan wajah penuh rasa lelah serta penuh rasa takut. perlahan akhirnya ia panjat satu persatu-satu  piramida  sampai akhirnya ia sampai di ujung piramida tertinggi di mesir . Raja, panglima serta rakyat pun menyambut nya dengan penuh rasa kebahagian mereka bangga memiliki calon pemimpin yang kuat ,sabar dan tidak mudah putus asa dan dengan sisa tenaga nya ia membalas senyum kebahagian dari seorang raja, panglima serta rakyat  dengan bahagia pula,setelah itu raja menghampirinya dan memberikan kertas bertuliskan “THE REAL CHAMPION”  pemuda itu menerima nya dengan penuh kebahagian lalu ia mengangkat tinggi –tinggi tulisan itu  sambil berteriak “I am the real champion” dengan sisa-sisa tenaga nya serta seluruh suara nya ia keluarkan sambil menangis bahagia karna ia berhasil melewati semua tantangan itu dengan selamat , dan hanya mengalami luka – luka kecil, yang sama sekali tidak ia hiraukan .karna ia terlalu berbahagia berkat keberhasilan nya ,berkat kerja keras nya ia mampu sampai dihadapan sang raja untuk menggantikan posisinya sebagai raja dan yang akan memimpin para rakyatnya . akhirnya  semua rakyat pun bersorak gembira, menyambut kedatangan pemuda itu dengan penuh harapan para rakyat berharap agar pemuda itu dapat  menggatikan posisi raja dengan baik , amanah serta bijaksana dan penuh tanggung jawab  .
Tidak lama dari kejadian bersejarah itu raja meninggal dunia karna penyakit keras yang dideritanya. Semua rakyat , panglima serta pemuda yang baru diangkat menjadi raja itu pun  merasa sangat berduka atas kepergian raja.mereka pun tidak terlalu lama larut dalam  kesedihan mereka ,karna mereka yakin pemimpin yang saat ini dapat lebih baik dari yang sebelumnya , keyakinan mereka sangat kuat karna melihat perjuangan  pemimpin baru  nya sangat tangguh dan tidak mudah putus asa .dua tahun berlalu dibawah pimpinan sang raja baru rakyat hidup tentram dan damai.suatu ketika sang raja duduk diatas singgasana nya Nampak gagah dan begitu bijaksana .lalu beliau memanggil salah satu rakyatnya  dan bertanya “ wahai rakyat ku  apa yang membuat mu sangat mencintai aku, raja baru mu” kemudian sang rakyat pun menjawab “wahai yang mulia rasa cinta kami rakyat mu, kepada mu karna ada nya rasa cinta mu yang begitu besar kepada kami itu lah yang membuat kami sangat mencintai mu”kemudian seorang rakyat itu menegas kan lagi “itulah mengapa, engkau sangat layak menjadi pemimpin kami . dan berkat kerja keras serta tekad kuat mu lah yang membuat kau layak di katakan “the real champion” pemenang sebenarnya kau pula yang mengajarkan pada kami apa arti sebuah perjuangan dan  kerja keras” raja pun tersenyum bahagia . kemudian raja mengatakan kepada salah satu rakyat itu “wahai rakyat ku yang sangat aku banggakan,  apa kau tau? untuk menjadi seperti ku saat ini, duduk dengan nyaman diatas singgasana mewah ini bukan lah hal yang mudah. Wahai rakyat ku menjadi seperti ku saat ini dibutuhkan keberanian , kerja keras, dan tekad yang kuat.” Kemudian rakyat menjawab “ wahai raja lalu apa yang kau rasakan setelah kau berhasil mendapat kan ini semua, memimpin banyak orang ,memikirkan kemauan banyak orang sedangkan dirimu sendiri tak pernah kau perhatikan”raja menjawabnya lagi “andai kau tau aku sangat puas dan bahagia ,karna alam tak pernah mengingkari siapa yang bekerja keras dialah yang akan mendapat kan nya ,kerja keras ku selama ini untuk mendapatkan ini semua juga bukan hal mudah aku harus menyerahkan nyawa ku jika aku tidak pandai melindungi diri ku sendiri , dan karna semua pengorbanan ini yang membuat aku bisa sebahagia sekarang, dan andai kau tau aku akan sangat bahagia menduduki singgasana ku ketika aku melihat senyum kebahagian dari wajah para rakyat ku. Karna ada nya aku disini adalah untuk membahagia kan para rakyat ku .”kemudian sang rakyat tadi menuturkan lagi“ wahai yang mulia aku belajar dari mu bahwa semua kebahagian itu akan ada ketika diiringi dengan kerja keras , aku sangat bangga memiliki panutan yang pandai, kuat ,serta bijaksana sepertimu , terimakasih telah mencintai rakyatmu melebihi cinta mu pada dirimu sendiri . dan bagi kami kau lah pemimpin terbaik dari yang terbaik buat kami.
Raja pun menjawab nya dengan penuh senyum kebahagian .dan ia berharap semoga kedepannya dibawah pimpinan nya rakyat semakin sejahtera, aman , damai, dan penuh  kebahagian. Raja pun menegaskan lagi “ bahwa segala sesuatu yang dicapai dengan kerja keras dan do’a  akan menghasilkan hasil terbaik dari yang terbaik ,karna menjadi yang terbaik dari yang terbaik tidak semudah itu”akhirnya raja pun tersenyum bahagia puluhan,ratusan,bahkan ribuan rakyat nya itu bersorak bahagia sampai tidak ada satu pun raut kepedihan diwajah para rakyat nya  akhirnya hari demi hari telah dilalui semua berjalan begitu cepat dengan baik  dan sejahtera.seluruh rakyat,prajurit ,panglima serta raja pun mereka turut bahagia atas segala ketentraman yang tercipta dinegaranya ,akhirnya Negara itu damai sejahtera selamanya,berkat adanya pemimpin sebenarnya dan pemenang yang sebenarnya.dialah seorang raja brazil sebagai pemenang sebenarnya.
****

Hidayah Yang Terbendung (Muhyiddin Pardi)


HIDAYAH YANG TERBENDUNG
           



Sudah menjadi kebiasaan sang guru mengaji berkeliling dari tiyuh ke tiyuh  lain, dengan kacamata minus mengendarai sepeda tua yang nyaman ia gunakan. Dengan penuh semangat dan harapan ia jalani tugas itu bertahun-tahun tanpa mengenal lelah sedikitpun. Lembah dan ngarai, jalan terjal dan berlumpur terkadang ia lewati dengan sabar, terkadang pula ia telusuri bukit kecil dan perkebunan hal yang biasa, sesekali ia berucap dengan kalimat yang menakjubkan. Ketika lelah menghampirinya  ia sandarkan sepeda tuanya ditepi perkebunan yang agak rimbun dekat bukit kecil yang konon ada sejarah unik di tempat itu. Ia hanya menatap sesekali bukit itu tanpa harus menguras pikiran untuk merenungkan apa karomah bukit itu. Yang jelas ia percaya di Tulang Bawang Barat banyak kisah unik pada zaman sejarah maupun prasejarah, sang guru mengaji cukup senang dan merasa nikmat dan nyaman tinggal di daerah tersebut, penduduk yang hetrogen dengan pendatang dari berbagai pelosok tanah air tidak mengusuik ketenagannya bahkan ia cukup bangga dengan kehadiran saudara saudara nya, terkadang ia bertukar fikir dan pengalaman dari segala sisi, sehingga ada peradaban baru. 
Saat ia istirrahat sejenak ia lihat seorang paruh baya bersandar di sebuah pohon tatkala dhuha menjelang, sambil menghela nafas panjang dengan tatapan mata yang kosong kearah yang tiada batas. Terkadang ia sentuh kerikil kecil  sambil ia lemparkan di bagian tepi rawa yang agak terlihat keruh. Sang guru tidak tahu apa yang terbesit dan yang dipikirkannya, sepertinya ia cemas dengan dirinya dan lingkungan yang ia hadapi. Mentaripun mulai bergeser hingga terasa panas menyengat tubuh yang terlihat kusut tanpa harapan hidup yang menentu. Sejenak kemudian ia berdiri sambil membawa kayu kecil ia pukulkan pada dahan-dahan kecil sekitarnya. Tak lama kemudian sampailah ia pada sebuah gubuk kecil yang terbuat dari kayu gelam dan bambu yang beratapkan ilalang yang mulai tampak rapuh. Mungkin gubuk itu cukup berusia  dan agak kurang terawat. Di depan gubuk tua itu tampaklah kayu bulat yang terpotong pendek sepertinya sudah dipersiapkan sebelumnya  hingga si tua itu merebahkan badannya dengan menyandarkan kepalanya di bawah pohon yang rimbun untuk menutupi sengatan sinar matahari .  terkadang ditutup matanya dengan tangan  yang agak kurus sepertinya  terasa kantukpun tiba sehingga ia tak mampu lagi menahannya. mimpi panjangpun berlalu karena tertidur lelap  seperti  tanpa beban saat berbaring di atas pelepah daun kelapa kering itu, dengan beralasankan kayu yang mengganjal di kepalanya. Saat terbangun ia gerakaan sebagian organ tubuhnya sambil menoleh ke kanan dan kekiri terkadang menengadah ke atas menatap matahri yang mulai menyingsing. Di samping gubuk tampak seperti bergantung sesuatu, mungkin itu adalah bingkisan yang dipersiapkan oleh istrinya untuk bekal di kebun seharian. Sang guru ngaji seusai ia jalani sholat dhuhur dekat kampung itu ia kembali dan ia memperhatikan terus apa yang dilakukan si tua tadi, akan tetapi ia tidak tahu dengan pasti keadaan hatinya yang sebenarnya nampak sekali dari raut wajahnya terasa cemas dan hilang asa yang tak berkesudahan, padahal tatkala dhuhur tiba tak sedikitpun tergugah hatinya untuk segera mengambil air wudhu mensucikan hatinya yang kotor melalui organ tubuhnya mulai rapuh itu.
Saat senja mulai tiba bergegaslah ia untuk meninggalkan lahan yang ia tunggu, tak mengenal lelah dan letih selayaknya para petani, tetap jalan dengan harapan yang kurang pasti atau lainya,  yang jelas  belum tercapai apa yang menjadi maksudnya selama ini. Sebilah sabit di tangan kiri dan cangkul berada dipundaknya mengiringi perjalanan yang tidak jauh dari rumah nya. Di celah-celah perkebunan ada jalan setapak panjang menuju kampungnya, itulah jalan yang ia lalui setiap harinya, sehingga banyak orang mengenal bahkan tak satupun yang dilaluinya itu tak mengenalnya, akan tetapi setiap orang yang dilaluinya hanya melihat ada yang menaruh belas kasihan, berbagai ekpresi teruangkap dari raut wajah penduduk di kampung bahkan ada yang tidak memberikan perhatian terkesan membiarkan ia berlalu begitu saja. Subhanalloh ternyata ia tinggal disebuah rumah ya mungkin yang  paling besar diantara rumah-rumah tetangga yang mengitarinya. Ketika sang guru mengaji hendak pulang ia cari tahu keadaan si petani tadi, sambil ia menuju pulang, tampak jelas alamat yang ditujusSaat itulah ia berfikir apa yang di cari dari dirinya yang selama ini memaksakan hidup untuk mengais rizki itu. Sesampai di depan rumah tampak dua pemuda yang sedang asyik membersihkan kendaraan. Kebetulan sang guru hampir bersamaan dengan datangnya sang petani petani, begitu ia lihat tanpa menggubris bahwa ayahnya telah datang dari peladangan. Anehnya lagi anak yang sepertinya sudah dewasa itu itu tidak sedikitpun menoleh ke orang tuanya apalagi menyapanya. Ada yang salah mungkin dari ini semuanya, akan tetapi belum tahu dengan pasti penyebab itu semua.
Terdengar sayup-sayup di tengah desa suara kalam dari menara masjid, sementara kedua remaja putra situa tadi belum beranjak dari tempat ia membersihkan kendaraannya, sepertinya sangat asyik dengan pekerjaan itu. Terkadang nampak wajah seorang ibu keluar dari baik pintu sambil melihat kedua anaknya namun tak sedikitipun kata keluar dari kedua bibir nya bahkan terkesan mendiamkannya tanpa beban sedikitpun yang ada pada dirinya. Kumandang magrib pun tiba, masya Alloh sepertinya tidak sedikitpun tertarik hatinya dengan suara yang memanggilnya , padahal kalam itu berawal dengan Allohu akbar….Alloh Maha Besar. Haripun berlalu keadaan pun berubah dan suasana mulai nampak berbeda, pak tua yang biasa berangkat menelusuri lorong-lorong pedesaan tak tampak lagi, sehingga orang di sekitar kampung selalu bertanya, kemana pada Dullah ini …..? oh ternyata ia bernama paka Dullah. mulailah sang guru ngaji  mengerti siapa nama orang tua itu. Di lain tempat  ada yang mengumbar suara agak sinis  “ Apa udah mati Dullah itu  ?   sang guru  tak mengerti mengapa tak satupun yang berkata baik masyarakat di kampung itu. Tetapi yang jelas menurutnya ada sifat yang kurang mulya sehingga semua berkomentar yang tak sedap dirasa. Dosa rasanya jika aku cari tahu tentang dirinya” guman sang gur dalam hatinya, akan tetapi ia  jadi penasaran jika tak mengetahui penyebab kebencian masyarakat pada keluarga itu. Tak lama ia cari tahuy ternyata pak Dullah sakit karas, dalam hati sang guru  terasa kasihan dengannya karena tak satupun orang yang iba kepadanya . akhirnya ia beranikan diri untuk menengok pak Dullah yang sakit berhari hari tanpa kabar apa yang dideritanya. Hari itu usai sholat Ashar ia pastikan ada keluarga di rumah itu, tanpa ragu dan iapun tidak menghiraukan lagi pandangan orang yang tak tahu berapa jumlah mata yang menatapnya, seolah meraka berkata “ biarkan saja dia mati, nanti biar dikubur anak  nya sendiri “ itulah suara meraka meskipun tak terdengar dalam telinganya tapi ia mendengar dalam batinnya. Sesampai di depan rumah yang berpagar tembok kokoh dan berdinding warna orange ia gerakkan pagar teralis rumahnya tak lama keluarlah satu pemuda sambil berakat cetus seprtinya “ ada apa pak ? padahal salampun belum ia ucapkan sudah disambut dengan kalimat ya menurut orang umumnya agak aneh, tapi tak mengapalah karena sang guru berniat baik bukan sekedar mau main tanpa arti. Sesampainya di depan pintu ia sampaikan “ assalamu’alaikum ? seorang ibu keluar yang sepertinya kurang berkenan dengan kehadirannya Dalam batin sang guru  berdo’a “ ya Alloh aku ingin sekali bertemu dengan pak Dullah semoga pertemuan yang singkat ada makna baginya”. Alhamdulillah ia dipersilahkan masuk di langsung melihat pak Dullah. Ia tampak berbaring lemas, kulit tubuhnya yang nampak keriput dan hitam telah membalut tubuhnya, bau kurang sedapun terasa dari ranjang tidurnya. Sesaat kemudian salah satu pemuda bagian dari kedua putra mengambilkan  kursi plasik yang agak usang, lalu sang guru  duduk di atasnya sambil mendekati kepala pak Dullah. Sang guru  mencoba memegang bagian tangan kananya yang tinggal tulang yang terbalut kulit, terkadang sang guru membisikkan dan ia  letakkan mulutnya pada telinga dan ia bisikan “ banyak beristighfar ya pak, tidak ada lagi yang mampu menyembuhkan selain Dia yang Maha Pemberi Kesembuhan”. Pak Dullah terlihat gelisah ia hanya berlinang air mata yang sempat mengalir membasahi pipinya yang menua itu. Tak lama kemudian sang guru panggil kedua anak nya dan istrinya, saat itu ia hanya berpesan “ jagalah ia baik baik, jangan tinggalkan ia sendirian turuti apa yang menjadi keinginannya “pesan sang guru,  namun kedua anaknya dan istrinya sepertinya tidak menaruh sedikitpun rasa sesal dan iba bahkan terkesan membiarkanya. Lama sang guru tak berkunjung, beberapa hari kemudian terdengar dari beberapa tetangga bahwa paka Dullah telah meninggal. Bergegaslah ia kesana untuk bertakziah, sepanjang jalan ia mengajak setiap orang yang dilaluinya akan tetapi tak satupun menghiraukanya. Sesaat ia berjalan di sebuah kerumunan orang ia  ajak meraka “ pak takziah yok “ mereka menjawab “ untuk apa takziah , biar berangkat sendiri saja kekuburan . sang guru menggelengkan kepala tapi tak ada salah mereka begitu itu, karena itu hak mereka.
Seampainya di rumah almarhum pak Dullah tak Nampak anak dan istri sedih sebagaimana layaknya manusia bahkan ada yang sempat  dari salah satu anaknya mau pergi entah kemana arahnya, yang jelas tidak mau mengurus keadaan ayahnya yang telah tiada. Bebarapa orang yang hadirpun menyiapkan sarana seadanya dari mulai untuk memandiukan, mengkafani hingga menyolati, sepertinya tak begitu banyak yang bertakziah, sang guru lihat yang memnadikan sekitar tujuh orang saja sementara anak dan istrinya hanya duduk duduk di beranda depan sambil memegang alat komunikasi, “ astaghfirullohaladzim ” …berkata  sang guru dalam batinnya. Sesaat jenazah selesai di mandikan kemudian dibungkus dengan kain kafan seadanya, dan ada tiga  bersama satu orang imam yang menyolatinya. Seusai sholat datanglah ambulan untuk membawa jenazah, sebenarnya makam tak jauh , mungkin karena berharta itu akhirnya di bawa ambulan. Selesailah sudah urusan jenazah termasuk di pemakaman. Setelah itu sang guru  mencoba untuk singgah kerumah ibu Dullah mungikn ada yang disampaikan   siapa tahu untuk kelangsungan nya sesuai dengan tradisi yang berjalan di kampung. Ia berjalan  agak dipercepat takut bertemu dengan waktu dhuhur sehingga sempat untuk berjamaah nantinya. Bebarap menit kemudian sampailah sang guru di halaman rumah, namun ketika mendekati pintu rumahnya terdengar keributan yang sepertinya sangat serius. Ada di antara salah satu dari anaknya berkata keras “ pokoknya warisan saya harus lebih banyak” ibu nya menjerit dengan sesak sambil menangis “ nak ayahmu baru saja dikubur nanti kalau sudah seminggu atau empat puluh hari” ibu pemuda itu menyampaikan.  “saya tidak mau tahu “ tukas anaknya. Terjadilah pertengkaran yang sangat sengit dan dan berbicara yang  tidak terarah lagi , tidak lagi dengan akal sadarnya..sampai-sampai salah satu anak terdengar membenatak ibu nya “ pergi ibu dari rumah ini kalau enggak saya bunuh nanti “. saat itu sang guru agak kebingungan “mau masuk bagaimana, mau tinggal diam sepertinya perlu penengah dalam masalah ini” uangkap hatinya ,akhirnya ia beranikan diri “ Assalamu’alaikum , ….tak satupun menjawab akan tetapi pertengkaran sudah mulau surut tak lagi ada suara keras, kemudian keluarlah seorang ibu sambil isak tangis yang ditahan dan mata yang masih memerah karena mungkin tangisan yang tak terbendung tadi. Kemudian sang guru beranikan diri untuk bertanya kepada ibu “ Bu bagaimana acara salanjutnya ada acara tidak nanti malam atau hari berikutnya ? ‘ Tanya sang guru, seperinya ibu itu masih bingung , akhirnya sang gurupun berkata lebih awal dari nya “ baiklah jika tidak ada acara lainya tidak apa, yang penting ibu dan keluarga mendokan yang sudah meningal.
Beberapa hari kemudian salah satu dari anak nya yang lebih tua datang dengan membawa sebingkis apa kurang faham , sepertinya gula , ia mencurahkan isi hatinya tentang bagaimana membagi warisan setelah orang tua tidak ada “Pak guru, bapak saya meninggalkan harta berupa kebun, sawah,kenadaraan, rumah dan kami bersama ibu dan kakak” , tukasnya sambil percaya diri dan tak merasa sedih apalagi merasa berdosa . “ nanti saja dulu,sabar kalau sudah agak lama ,tanah bapak mu saja belum kering sudah membicarakan warisan, “.kata sang guru .” Saya takut pak nanti semua di jual oleh kakak saya . jawab pemuda . “ baiklah nanti kalian datang bersama kakak dan ibumu kemari.
Keesokan harinya ketika waktu dhuha datanglah mereka berduyun duyun dengan kendaraan warna putih metalik di depan rumah. Setelah  berhenti kendaraan,  mereka turun ada yang sedih terutama ibu namun ada tertawa girang yaitu kedua putranya, langsung saja sang guru sambut dan ia persilah kan masuk ke dalam gubuknya. Setelah duduk tanpa basi basi langsung ia sampaikan kepada meraka, “ Bapak telah tiada , bapak meninggalkan harta yang tidak sedikit, mungkin di antara kalian ada yang ingin segera mendapat warisan apa begitu “Tanya sang guru  bener pak”,jawab salah satu dari kedua pemuda itu,  baiklah, kata sang guru “ ada tiga cara menyelsaikan warisan, yang pertama dengan cara agama , kedua dengan cara negara dan yang ketiga dengan cara kekeluargaan, syukur hal ini dapat selesai dengan keluargaan tanpa satu pun terlibat kecuali hanya keluarga saja”  kata sang guru. “ mana yang lebih baik pak ? tanya mereka tentu dengan cara hukum agama karena itu hokum Alloh yaitu alqur’an “. bagaimana membaginya pak ? mereka sepertinya mendesak dan antusias. Kalau kalian setuju dengan agama saya hitungkan sesuai dengan ilmu faroidh yang telah ditentukan Alloh. Setelah dihitung dan bagi masing-masing harta kedua anak tersebut tidak terima dan akhirnya pulang, keesokan harinya mereka pun datang untuk menyelsaikan dengan cara negara, merekapun ada yang tidak terima. Seusai magrib sang guru datang kerumah meraka dan dikupulkan di ruang tamu, ia sampaikan panjang lebar, namun tetap mereka tidak terima dengan semua itu. Tanpa disadari sang guru mengambil tas dan mengeluarkan sebilah pisau yang tajam….” Berebutlah kalian dengan pisau ini siapa yang dapat itu yang mengusai” tegas guru akhirnya mereka tertunduk terdiam , dan sang gur meninggalkan meraka
Hati yang mati tak pernah merasa puas uurusan duniawi…….
Hati yang mati akan selalu iri dan timbul dengki
Hati yang mati tak mau sujud pada Illahi
Hati yang mati hanya berangan angan menggapai duniawi
Hati yang mati tak tergugah untuk panggilan Illahy
Hati yang mati tak memiliki rasa peduli
            Hati yang mati tak pernah sadar bahwa dirinya akan jemput mati …….
****


Keajaiban Cinta Dalam Pesantren (Setyowati)


KEAJAIBAN CINTA DALAM PESANTREN



Pada malam itu suasana semakin terasa sepi dan sunyi tidak ada bintang di langit hanya saja suara bising yang terdengar dari pojok –pojok kamar putri ,di sebelah pojok kanan nampak  terlihat berbagai aktifitas yang di lakukan para santri di depan teras ada pula santri putri yang sedang menghafal al-quran .
Kini malam semakin larut dan semua santri mulai terlelap dalam tidurnya.setelah beberapa jam kemudian suara azan pun berkumandang dan mereka bergegas tuk melaksanakan sholat subuh berjamaah ,seusai solat subuh para santri pun langsung mengaji kitab tafsir ,sungguh tak di sangka pada saat mengaji kitab para santri banyak yang tertidur sehingga kitab mereka tidak terisi oleh materi pada pagi itu namun hal ini adalah suatu kenikmatan yang patut di syukuri bagi para santri .
             Pagi yang cerah kini pun menyapa dan tepat pukul  07.30 wib gerbang pesantren pertama pun di buka ,semua santri putra dan putri pun bergegas meninggalkan kamarnya masing –masing .pada saat belajarakan di mulai semua santri nampak terlihat senang dan ceria namun tak seperti hati ku (laila nur syafaah) seorang gadis polos pondok pesantren nurul –quran. Kini ku rasa semua terasa hampa saat aku lihat sahabat ku yang di jenguk oles keluarganya , hal itulah yang membuat ku terbayang –bayang akan hadirnya keluarga ku
‘’umi ,abi , kakak, laila sangat rindu dengan kalian namun tak mungkin jika laila kembali kerumah pada saat ini ,hal itu berarti sama saja laila hanyalah mengecewakan kalian semua .jadi mungkin  aku harus bangkit dan berusaha melupakan kesenangan di rumah dulu ‘’keluh ku dalam hati.                                    
 Tak di sangka dari arah belakang teman ku vika mengagetkan ku ‘’der! Hai laila kenapa kamu melamun’’?
 Tanya vika dengan penuh penasaran. Dan laila pun menjawab’’hem aku hanya teringat dengan keluarga ku di rumah’’.
’Lalu ia pun merangkul ku dan berpesan pada ku ‘’ sudahlah laila jangan  di pikirkan lagi ,lagi pula bukan kamu saja yang sedang merindukan keluarga mu semua santri pun juga merasakan hal yang sama.begitu pula dengan ku ,tapi hal ini adalah jalan yang harus kita hadapi bersama dengan ikhlas dan sabar ,jadi kamu harus yakin bahwa kamu bisa dan aku akan siapa menjadi sahabat dekat mu.’’dan laila menjawab ‘’ terima kasih vika,aku janji akan bertahan hingga lulus nanti dan kita akan berjuang bersama sama demi menggapai cita-cita.’’
             Tak terasa kini aku sudah lama di sini ,dan hingga akhirnya aku putuskan untuk mengambil study S1 dan menjadi bagian dari organisasi ternyata mengasyikan juga dan aku pun bisa lebih dewasa dan mengerti arti kesederhanaan dean hidup tanpa pamrih ,sungguh semua ini tak bisa ku lupakan begitu saja ‘’ku mampu dalam hati hingga akhirnya aku tertidur pulas.mata hari pagi menjelang siang pun seakan –akan terasa di atas ujung kepala ,dan kini saatnya kami kembali pulang ke kamar masing –masing . sesampainya di kamar aku pun langsung berganti baju dan bersiap-siapa melakukan kembali kegiatan mengaji kitab tafsir ,namun tiba-tiba ada seorang santri wati yang datang menghampiri ku dan berkata”ukhty laila,ukhty tadi di panggil umi, amanat dari beliau sekarang ukhty di minta menghadap beliau sekarang”ajak laras dengan suara lembutnya. “oh ya ada apa ya ini ty?aku jadi takut” ujar ku sambil memegang tangannya. Dengan kelembutannya dia pun memelukku dan berkata “sudah lah ukhty,tak usah takut lagi pula ukhty gak punya masalah kan sama umi, ayo kemarilah aku antar. “Ujar nya dengan penuh meyakinkan ku.
              Kini pun aku berjalan menuju ke kamar umi bersama laras, ia merupakan salah satu santri kepercayaan umi. Kini langkah kaki ku pun terhenti di karena kan aku telah tiba di depan kamar umi jantung ku terasa berdetak kencang dan aku sambil menghela nafas “huft bismilah”.
“assalamualaikum umi” ujar ku dengan nada gemetaran.
“Waalaikumsalam” jawab umi,oh laila silahkan masuk saja pintu tak umi kunci.
 Aku pun masuk kekamar tersebut dan nampak jelas wanita yang cantik dan  bijaksana (umi latifah) istri dari kyai hasim yang kini memiliki 3 putra yaitu: gus hanif as-syuhada yang sedang kuliah di kairo. Gus fikri Ramadan dan yang terahir gus ahmad rizal saputra.
          “jadi begini laila umi tadi di telpon dengan ibu mu bahwa kakak mu akan menikah dan meminta supaya umi untuk mengizinkan mu agar laila bisahadir dalam acara itu, umi pun  akan mengizinkan mu namun hanya 3hari saja”. Pesan umi.aku pun hanya dapat mengangguk dan tersenyumbahagia, karena hal yang ku dambakan akhirnya datang juga. Kemudianaku pun langsung berpamitan dengan umi.
            Sesampainya di asrama aku pun langsung menata barang-barang yang ku ingin ku bawa pulang sekaligus berpamitan dengan vika dan teman yang lain. Seketuika dalam perjalanan menuju kampung halaman kini ku merasakan indah kembali dunia ku, dan tak terasa kereta yang sedang aku naiki melaju amat cepat sehingga beberapa jam kemudian aku pun sampai di depan rumah. Ternyata suasana di rumah sangat berbeda, terlebih ada banyak bunga yang bertaburan dan padatnya pengujung yang datang.
            Dengan bersemangat aku pun melangkah riang menuju rumah dank u langsung ku ketuk pintu.
          “tok-tok!assalamualaikum” umi,abi,kakak laila pulang” seru ku
Lalu tiba-tiba kakak ku pun datang, dengan senang hati aku pun langsung memeluknya “waalaikumsalam adikku maaf ya di dalam sangat berisik sehingga tak ada yang mendengar  salam mu. “kak laila kangen sekali(sambil menangis bahagia) dan aku pun rindu di rumah ujar ku dengan menghapus air mata ku. Tanpa basa-basi kakak ku pun langsung mengajak ku kedalam” oh iya ayo masuk jangan nangis lagi pasti abi dan umi merindukan mu juga.
         Lalu ku mencari umi dan abi di balik keramaian pengunjung namun tak muncul juga sungguh tak ku sangka umi dan abi mengagetkan ku dari belakang dan serempak berkata “laila” dan sepontan aku pun langsung memeluk umi dan abi sambil menangis bahagia.”ya allah sungguh ini adalah kebahagian teristimewa bagi ku dan serasa ini semua hanyalah mimpi” dalam hati ku.
          Laila, kamu pasti tambah ya disana! Lihatlah kini kau tambah tumbuh besar dan tinggi. “sindir abi sambil tersenyum.” Eeehm allhamdulilah kalau begitu jadi laila senang.laila mohon doanya ya abi, umi biar laila nanti bisa jadi orang yang sukses .’’pintaku sambil menunduk malu.dengan semangat mereka pun berkata’’ammmmiiinn’’                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               
 Kemudian aku pun langsung menuju kamar dan beristirahat dikamarku,sedangkan keluargaku pun kembali mempersiapkan pesta acara pernikahan tersebut,dan ketika aku mulai terpejam rasanya aku ingin cepat-cepat balik kepondok lagi,’’hem..ternyata dipondok itu lebih menyenangkan ya…’’gumam ku dalam hati. Dan hingga akhimya aku pun terlelap tidur.
         Malam pun berganti pagi,dan seruan adzan subuh pun berkumandang ,kami pun akhirnya bergagas melaksanakan solat subuh dimasjid ,seusai solat kami pun kembali kerumah.  Dan kembali mempersiapkan acara akadnya. Beberapa jam kemudian acara akad tersebut pun akan dilaksanakan ‘’abi ,sungguh ini adalah hari teristimewa ya!pasti kakak senang sekali.abi….nantikan laila udah kepondok lagi jadi abi bisakan anterin laila sampai kepondok?’’tanyaku sambil tersenyum.                                       
‘’iya  nanti pasti abi anterin deh! Tapi sampai stasiun aja ya..’’sahut abiku.kini adzan dzuhur pun datang akhirnya kami pun begegas melaksanakan dengan berjamaa, seusai solat dzuhur  aku pun bersiap-siap tuk kembali kepondok ,akhirnya aku dan abiku pun berangkat kestasiun dan ternyata kereta yang sedang kutunggu akan datang  1 jam lagi,lalu ayahku pun meninggalkan uang sakuku dan beberapa pesan yang yang harus ku patuhi dipondok nanti,kemudian ayahku pun meninggalku sendiridan aku pun langsung mencari tempat peristirahatan dan syukurnya dibawah pohon rindang dekat stasiun itu ada banku panjang kosong tanpa tunggu panjang fikir aku pun langsung duduk dibangku itu sambil menggu kereta datang.        
Namun tiba-tiba ada seorang pemuda aneh yang datang mendekat dan duduk disampingku,tapi aku hanya bisa menahan rasa malu dan takut.     ’’ehem maaf ada apa ya! Apa ada yang aneh dengan ku ya?’’tanya sang pemuda tersebut dengan tidak menolehkan wajahnya.namun aku hanya bisa terdiam dan tak tau harus bicara apa. Tetapi sang pemuda itu tetap masih ingi bicara denganku.’’kenapa ukhty kok diam saja, apa ukhty merasa ternganggu denganku disini,ya…sudah kalau begitu biar aku pergi saja ya!ujarnya sambil berdiri.  ‘’ehh jangan pergi, tetaplah disini  aku tak merasa terganggu kok! Sahutku dengan nada pelan. ‘’baiklah kalo begitu  anggap saja kita ini sudah teman lama ya,jadi ukhty gak perlu gelisah begitu ‘’ujarnya denga tersenyum.  Namuun aku merasa bingung dengan kata-katanya lalu aku putuskan tuk bertannya padanya ‘’kenapa kamu bisa bicara begitu, padahalkan kita tak pernah berjumpa sebelumnya’’                                                                                                                                                                                                                 
‘’aduh ….ukhty ini gak faham ya! Maksud saya itu supaya ukhty tak merasa canggun jika didekat saya’’.sahutnya. karena merasa malu aku pun hanya tertunduk malu dan tak bisa berkata apa-apa.’’sudahlah aku hanya becanda kok, oh iya ukhty mau perjalanan menuju mana?tanyanya dengan tatapan tajamnya.’’aku akan pergi ke surabaya’’ ujar ku dengan penuh rasa malu.
Dan tanpa ku sadari aku pun langsung mengulurkan tangan kanan ku dan menyebutkan nama ku,namun ia tak membalasnya.’’hai kamu kenapa tidak mau membalas perkenalan ku bukankah tadi kamu bilang kalau kita ber pura-pura menjadi teman lama.walaupun hanya nama siapa tau kita akan bertemu kembali sambil menyapa kan!ujar ku dengan muka sinis.’’apa arti sebuah nama dan pertemuan,pertemuan pertama akan mengisahkan rasa penasaran dan pertemuan ke dua akan memunculkan rasa rindu dan bagi ku merindu itu sangat menyakitkan ‘’sahutnya.’’kenapa kamu bicara begitu bukankah sekarang dunia itu semakin sempit’’tanya ku
Belum sempat menjawab,kereta yang ku tunggu datang dan aku pun langsung menengok kea rah belakang namun ternyata laki-laki itu sudah hilang,dan hanya buku agenda yang tertinggal di bangku tersebut,karna merasa heran aku pun mengambil dan membacanya ternyata ada satu lembar yang berisikan suatu tulisan singkat.
Aku terpesona,kepada seorang gadis yang duduk di samping ku
Matanya indah,alisnya tebal aromanya wangi sehingga dapat menggetarkan hati ku,terlebih lagi
Dengan balutan kain suci yang telah membalut mahkotanya dan hal itulah
Yang membuatnya semakin terlihat sangat anggun,hati siapa yang tak
Tergoyahkan akan keindahan hati dan kecantikan jiwanya.sungguh hati ku
Kini telah terpanah oleh keindahan parasnya.
   Dalam kesetika ungkapan tersebut pun membuat hatiku bergetar kencang dan luluh olehnya hingga membuat ku terheran dengan sosok pemuda tadi.dan tak lama kemudian aku pun telah sampai di pesantren ,sesampainya aku pun langsung menuju kamar umi dan laporan agar mereka tak menghawatirkan kudan supaya aku tak terkena hukuman.ketika aku keluar dari rumah umi aku pun terheran karna melihat kawan-kawan ku yang sedang berjalan buru-buru.
‘’hai vik,mau kemana kok buru-buru gitu?tanya ku dengan penuh keheranan.’’laila kamu dah pulang,jadi begini gus hanif yang dari kairo itu sudah kembali ke sini ,jadi sekarang kami di minta untuk menyambut nya.dan apa kamu mau ikut nih?ajaknya dengan menggandeng ku.’’tidak lah aku capek nih!’’tolak ku ‘’ya udah istirahat dulu sana,tapi jangan lupa oleh-olehnya ‘’ujarnya sambil becanda.iya iya nanti deh ‘’<sahut ku sambil pergi ke kamar>.
Setibanya didepan kamar aku kan langsung masuk dan beristirahat di kamar suasananya sunyi  membuat teringat akan kejadian di stasiun,rasanya aku mulai penasaran dengan pemuda tadi.apakah ini yang di namakan sebuah cinta?ataukah hanya sebuah perasaan kebetulan saja.dan sungguh hal ini telah membuat ku terhipnotis olehnya’’.tanya ku dalam hati.hingga akhirnya aku pun terlelap dari tidur ,belum lama aku tidur aku pun terbangun di karenakan suara berisik yang berasal dari para santri putri karna asyik sedang bercerita tentang kedatangan gus hanif.’’eh…..gimana vik udah ketemu gus hanif belum nih!’’sindir vina sambil senyum.’’udah dong vin ternyata gus hanif tambah ganteng aja ya !’’gombalnya.‘’eh…….vika inget lo kamu udah ada yang punya,iya kan!’’seru ku sambil mendorong nya.’’ia aku tau laila lagi pula gus hanif gak mungkin kan kalau suka sama aku.’’jawab nya dengan menunduk malu. “ o…. iya aku mau beli peralatan mandi kamu mau ikut gak!”ajak ku.
Tanpa tunggu lama vika pun langsung menarik tangan ku dan berkata “ayo’’.akhirnya kami pun berjalan menuju koprasi,namun ketika di pertengahan jalan aku pun melihat kembali sosok pemuda tadi tiba-tiba hati ku bergetar kencang kembali.’’kamu kenapa laila? “ tanyanya pada ku.aku pun terheran dan memjawab’’itu siapa vika apa itu anak ustad . “iya kenapa emangnya?’’tanya vika padaku . “ gak papa kok yaudah ayo ke koprasi,sebelum nanti tutup.’’ajak ku sambil menggandengnya.
Setibanya di koprasi vika pun langsung membeli peralatan kami,namun di      pertengahan jalan gus hanif pun langsung datang dan menyapa ku.     
“assalamualaikum ukhty.’’sapanya dengan nada lembut.
            “waalaikumsalam akhi”…….
  Jawab ku dengan tertunduk malu.lalu sang pemuda itu berkata “akhirnya pertemuan ini mempertemukan kita kembali ya”.namun aku tidak bisa menjawab pertanyaanya tetapi pemuda itu masih bisa bertanya. “kenapa wajah mu tampak sekali dan tingkah laku mu seakan-akan ingin menjauh dari ku?”
            Namun tiba bel pun berbunyi dan kami pun harus bergegas untuk kembali ke pesantren.dan setiba nya di majelis aku merasa heran karna yang menggantikan ustad yaitu gus hanif sendiri dan hal itu membuat ku tidak konsen mengaji.
    “Telah lama aku memendam rasa yang kini telah terobati dengan hadirnya seorang lelaki impian dalam hidup ku,tuhan….aku tak mengerti maksud mu,kau pertemukan ku dan dia dengan rasa rindu yang kini telah membelenggu dalam hati. Tuhan….jika memang ialah yang ternbaik untuk ku maka persatukan kami jika bukan maka jauhkan dia dari ku”. Keluh ku dalam hati
Tak terasa waktu mengaji ku sudah selesai, setibanya di asrama aku pun memutuskan untuk menceritakan kepada sahabat ku vika, dan dia pun memberikan solusinya.
          Pagi pukul 08.30 wib aku pun memutuskan untuk melancarkan hafalan qur’an ku tiba-tiba tak di sangka gus hanif pun datang dan mengungkapkan isi hati nya yang begitu tulus. “ Laila namamu sungguh indah, begitu pula dengan hatimu dan jiwamu hal itu lah yang membuat ku menginginkan mu menjadi pendamping hidup ku!”   

Dalam Naunagn Suci ( Ika Fadhilla)


Dalam Naungan Suci
                                       
        
Pagi yang begitu cerah menghidupkan hati para santri Al- furqan untuk melakukan kegiatan di hari itu. Ku duduk termenung membawa satu buku tulis dan pena sebagai tempat mencurahkan isi fikiran dan hati ku. Memiliki banyak teman menjadi suatu kebanggaan bagiku. Tiga hari yang terlewati, tetapi hati masih terus berkata berat untuk hidup lama di pesantren . Niat untuk belajar agama masih terbesit sedikit di hati. Ku tulis semua apa yang ada dalam benakku  hingga butiran suci tumpah membasahi buku curhat ku. Hidup di pesantren seperti halnya bayi yang baru terlahir ke dunia. Semua menjadi putih. Ku sedikit sadar akan dosa-dosa yang lalu  saat aku masih dalam perlindungan orangtua ku. Tapi semua itu ku sia-siakan begitu saja. Melainkan aku yang telah durhaka padanya. Semua itu baru terasa saat aku berada di pesantren ini. Ketika ku duduk dari ketermenungan ku , ada seorang  ustadzah datang menghampiriku.
 “Nak mengapa kamu menangis? “Tanya salah satu ustadzah yang bermukim di pesantren .                                                                                  
“Aku ingin pulang, ingin bertemu dengan ayah juga ibu ku ingin meminta maaf atas kenakalan ku dulu yang pernah ku perbuat.” Jawab ku mengeluh dengan tetesan air mata ku yang membasahi jilbab ku.                       
 “Sebelumya nama kamu siapa nak?.”Tanya ustadzah sambil mengusap air mata ku dengan sapu tangan hijaunya.
 “Nama ku Qyara Fadila, ustadzah...”Jawab ku dengan tersedak-sedak karna tangisku. “Sudah jangan menangis lagi, perlu kamu ketahui Qyara bahwa segala sesuatu itu butuh proses, dan proses itu tidak mudah untuk kita jalani.
”kata ustadzah sedikit menasihati ku dengan tutur kata lembutnya. Aku memang belum tau siapa nama ustadzah itu tapi aku sangat bangga daenganya karna ia bisa memberhentikan derai air mata ku meski aku masih dalam kemurungan. Melihat mereka yang bisa tertawa lebar. Tapi entah mengapa aku yang hanya bisa terdiam dalam kepolosan. Ku jadi teringat akan desah-desuh masyarakat asal tiggal ku. Mereka yang mengatakan.                                        “santri itu bisa apa?,santri itu bisa jadi apa?.”Aku pun yang belum tau apa makna santri sendiri itu apa. Hati yang selalu berlari dalam kegelisahan. Hingga tidak ada ketenangan dalam jiwa.
Seiring berjalanya waktu, ku mencoba untuk  terus bersabar dan ikhlas. Saat pagi  yang masih gelap bertepatan pada pukul 02:00, aku dan  santri yang lain yang bergegas untuk melaksanakan sholat tahajud berjamaah. Itu semua kita lakukan karna sudah menjadi aktivitas wajib pesantren meski kami masih terbalut dalam rasa kantuk. Selesai sholat tahajud,semua santri kembali ke asrama untuk kembali tidur. Tetapi aku  hanya duduk bersila di atas sajadah merah sholat ku. Ku ambil Al- quran berkover emas pemberian sahabat ku dimana ketika aku masih menduduki bangku sekolah di SMP. Mengingat semua itu aku yang semakin terbayang dengan wajah sahabat ku. Aku tak sanggup menahan perasaan rinduku padanya. Aku hanya bisa berdoa untuknya. Serta tetesan air mata yang membasahi pipi ku .Ku usap air mataku dengan mukenah putih sholat ku. Ku baca al-quran dengan suara sedikit tersedak karna tangisku hingga tak sadar sampai terlelap tidur di atas sajadah merah kecil ku. Seseorang yang memandang ku dari kejauhan,kala aku tertidur di atas sajadah sholat ku dalam masjid. Ia pun mendekati ku , mengoyahkan tubuh ku hingga ku terbangun.Ternyata, seseorang itu adalah ustadzah yang selalu memberi ku motivasi.                                                      
“Qyara mengapa kamu tidur di sini, ini kan tempat ibadah nak.?”Tanya ustadzah dengan memegang kedua pundakku.                                            “Emm….maaf ustadzah, Qyara bukan bermaksud untuk tidur di sini.’jawab ku walaupun ku sedikit tersontak kaget.          “Minta maaf itu bukan karna ustadzah, tapi karna Allah! ayo kembali ambil air wudhu.”Ucap ustadzah sambil menutup al-quran ku yang terbuka.                                                      
 “Baik ustadzah.”jawab ku dengan logat sedikit malas. Saat ku kembali ke dalam masjid ,aku sangat terkesan dan sedikit heran dengan ustadzah yang melantunkan ayat-ayat Allah dengan suara yang sangat merdu. Apalagi dengan keadaan masjid yang sedang kosong hingga suara terdengar mengema.                                                                                        
 “Subhanallah indah sekali lantunan ayat yang di bacakan ustadzah itu.”ucap ku dengan rasa kagum. Kemudian ustadzah menoleh ke arah ku ,lalu bertanya.                    
 “Qyara mengapa kamu terdiam di situ.”Tanya ustadzah dengan raut wajah sedikit binggung. “he he … tidak apa-apa ustadzah.”jawab ku. ”ya sudah ayo baca kembali Al-qurannya sebelum adzan subuh berkumandang”. ajak ustadzah dengan tutur lembutnya. Sembari ku membaca Al-quran,terpintas dalam benak ku dengan sedikit binggung. sejauh ini aku  sudah sedikit akrab denganya ,tetapi satu, ku belum tau siapa nama beliau.ku baru menyadari itu.Dengan memberanikan diri,akhirnya ku memanggilnya dengan suara pelan.Dan ustadzah pun hanya mengedipkan matanya. Aku paham akan maksudya,karna beliau belum menyelesaikan bacaan qurannya.Selang beberapa menit ku menuggu. Dan akhirnya beliau mengucapkan.
“Shodaqallaahuladziim……”sembari menghela nafas ustadzah melontarkan pertanyaan padaku .  “Ada apa nak Qyara.?”Tanya ustadzah dengan nada tenang .           “Emm… sebenernya nama ustadzah ini siapa.?”Tanya ku dengan sedikit malu. ”Loh, jadi selama ini kamu belum tau nama ustadzah ini siapa..? padahalkan ustadzah sudah memperkenalkan diri saat pekan perkenalan…”
 “iya ustadzah, ketika itu Qyara tidak terlalu memperhatikan.”ucap ku dengan jujur. “jadi … nama ustadzah itu Laila Syarifa ,panggil saja  ustadzah Laila.” Jelas ustadzah.
Ketika aku dan ustadzah Laila sedang beradu pandang, mulai terdengar suara azan bekumandang  dari kejauhan. Adzan subuh yang menghantarkan para santri menuju masjid untuk menunaikan sholat subuh. Selesainya sholat subuh ,kami melakukan piket yang sudah menjadi aktivitas sehari-hari. Kemudian barulah kami melakukan kegiatan pribadi kami serta melakukan persiapan untuk berangkat ke sekolah. Dengan mengucap “BISMILLAH.” Aku dan teman-teman ku berangkat menuju ke sekolah. Tak sabar rasanya untuk mendapat ilmu baru dalam pesantren.Tetapi,sesampainya di sekolah aku kecewa karna sudah hampir dua jam tidak ada satu pun guru yang masuk ke kelas.Padahal waktu itu masih hari pertama masuk sekolah. Hingga akhirnya, rasa semangatku menjadi luntur untuk belajar.Ketika ku sedang duduk terdiam dalam rasa kekesalan dan penuh kejenuhan.Datanglah salah satu teman ku  menghampiri diriku ia bernama Zakira.ia berjalan menuju arah tempat duduk ku dengan senyum manisnya.
”Qyara!”panggil Zakira dengan nada semangat.                                            “iya,kenapa?.”jawab ku . “how are you? Why you look very sad.?tanya zakira. “aku baik-baik saja.”jawab ku dengan nada santai.                                                “benarkah.? mimik muka itu tidak bisa di bohongi.”kata zakira dengkan kata sedikit meledek. dengan bujuk rayunya Zakira akhirnya aku pun berkata jujur. ”sebenarnya aku tidak betah menuntut ilmu di pesantren ini.                                              ”Ooo ..jadi itu alasan mu . memang segala sesuatu yang baik itu susah,dan berat untuk kita jalani tapi lakukanlah semua hanya karna Allah ,insyaallah kamu di mudahkan olehnya ”lalu kamu sendiri bagaimana.”                                                                                     ”sebenarnya sama saja seperti kamu tetapi aku tetap teguh dalam pendirian hanya satu satu tekad utama ku yakni aku ingin menjadi seorang hafidzoh.”                      
“hah.! Hafidzoh apaantu?.”Tanya ku dengan nada serontak.                                                “menjadi hafidzoh itu adalah seseorang yang menghafal ayat-ayat Allah tetapi tidak hanya mengahafal, tapi juga mengamalkannya.”                              “memang seorang hafidzoh itu bisa jadi apa.?”tanyaku dengan penasaran. “bisa jadi apa saja yang kamu inginkan selagi itu masih dalam syariat agama atau untuk hal-hal yang positif.” 
 “kalau aku yang memiliki keinginan untuk menjadi dokter lantas,memang hafidzoh bisa menjamin semuanya.?”                                                     “Bisa.”jawab zakira dengan nada pasti lagi meyakinkan.                                          “Memangnya tidak ada keinginan lain selain menjadi seorang hafidzoh.?”
 “kalau keinginan itu sangat banyak .tetapi satu tekad pertama ku yakni menjadi seorang hafidzoh. Cita-cita yang ku impikan adalah menjadi seorang dokter yang syar’i .”        
 “jadi dokter, tetapi mengapa kamu lebih mengutamakan menjadi seorang hafidzoh.?” Zakira terdiam sejenak .kemudian ia hanya menjawab dengan kalimat singkat nya   .”suatu saat kamu akan mengerti apa makna dari seorang yang berjuang menghafal Al-quran. Aku  menjadi semakin binggung dengan semua perkataanya.
Hari demi hari ku lewati,Ketika itu, hanya kesunyian malam yang menemani ku. Karena, entah mengapa aku tidak dapat tidur malam itu. Aku hanya memandangi langit-langit asramaku. Teringat akan perbincangan ku dengan zakira waktu itu. Sudah banyak sang motivator yang membahas tentang hafidzoh (para penghafal Al-quran) kala aku mengikuti kegiatan seminar  ke sekian kalinya yang bertemakan keagamaan. Bahkan ada seorang pendeta mualaf yang menjadi seorang hafidzh.Tidak hanya sekedar itu saja,ternyata banyak juga yang menjadi multitalent,seperti seorang hafidzh yang menjadi  dokter.Semalaman aku hanya memikirkan hal itu. Kini aku yang semakin percaya betapa istimewanya seorang pejuang penghafal Al-quran. Orang tua ku yang selalu memberi dorongan kepadaku  untuk terus semangat dalam belajar. Disamping itu juga, aku sangat bangga dengan hadirnya seorang ustadzah dan teman yang bisa memberi cahaya untuk hidupku. Hingga ku sadar ternyata ukhuwah dalam pesantren itu benar-benar terjaga.Aku sangat bersyukur karna Allah masih memberikan ku kesempatan untuk menjadi yang lebih baik.Hingga pada akhirnya,  aku memutuskan tekad awal ku untuk menjadi seorang hafidzoh.Perlahan-lahan aku memulai menabung untuk menghafal .
Pagi di sekolah sebelum pelajaran di mulai aku selipkan sedikit hafalan meski hanya satu ayat atau dua ayat.Lalu,dalam pengulasan hafalan terkadang aku dan zakira  bergantian untuk saling simak-menyimak.Kita berdua yang sekarang memiliki tekad  sama untuk menjadi seorang dokter dan hafidzoh. Kami lakukan  itu semua dengan sabar serta ikhlas.Meski terkadang terbesit kata menyerah dalam benakku.Bahkan sempat aku dan zakira di jauhi oleh teman-teman yang lain karna kita yang selalu berdua .Mungkin belum semua temanku faham akan arti sebuah persahabatan. Tapi aku dan zakira tetap yakin bahwa Allah itu akan mendengar do’a dari seorang hambanya yang memiliki niat baik dan penuh kesungguhan . Orang yang saat ini menjadi tameng bagiku tidak hanya zakira dan ustadzah Laila saja di pesantren. Tapi aku lebih percaya dengan  perlindungan serta pertolongan dari Allah SWT.
Mungkin, Allah memberi petunjuk padaku lewat prantara mereka dan orangtua. Ustadzah Laila yang selalu menasehati aku dan Zakira.Waktu itu beliau mengatakan,”hiraukanlah semua hal yang hanya membuat keyakinanmu menjadi rusak”. walaupun hanya sepatah dua patah kata nasihat yang beliau berikan ,semangatku dan zakira menjadi semakin terus bertambah dan terus  berkobar.       
Tiga tahun yang akan terlewati tidak terasa bila akhirnya, kami pun akan berpisah  dari pondok pesantren yang kami cintai.Perpisahan ini tidak akan aku lupakan. Dalam khutbah terakhirku,aku hanya memberi pesan-pesan indah untuk naungan suci ini.”terima kasih untuk semua yang sudah mensuport aku hingga kini saatnya kita harus berpisah , untuk teman-teman ustadz dan ustadzah atas ilmu yang kau ajarkan padaku,dan untuk orangtuaku entah apalagi yang harus aku katakana selain kata terima kasih.” Tangisan air mataku di kala itu menjadi tanda kepedihan hatiku .Karna tuk melepas kepergian sahabat dan guru yang tak pernah bosan untuk menegurku ketika aku dalam jalan yang salah. Aku berjanji tidak akan melupakan naungan suci ini.Karna naungan inilah yang menjadi saksi bisuku.